Kenapa Anda tertarik untuk menulis di blog? Apa yang selalu menyemangati Anda ketika sedang melakukan blogwalking?
Kamis, 26 Agustus 2010
Apa dan Kenapa?
Sabtu, 21 Agustus 2010
Demam Jepang -> Korea (2)

Postingan kali ini kita melanjutkan tentang demam. Haha…
Ok, check this out!
Korea.
Seperti yang saya sampaikan di postingan sebelum ini, bahwa saya suka Korea karena melihat dramanya. Dari mata turun ke hati. Yup, pemain dramanya kinclong-kinclong. Uh, bikin mata melek terus…tapi, belakangan saya tahu banyak artis Korea yang melakukan oplas alias operasi plastik. Memang tidak semuanya sih, tapi SEBAGIAN BESAR. Nah, mengetahui ini saya kecewa. Bagaimana tidak, penelusuran saya di google memberikan saya gambar-gambar artis sebelum operasi plastik dan sesudahnya. Memang awalnya mereka melakukan itu gara-gara tidak good looking. Malah beberapa di antaranya tidak memiliki perbedaan yang terlalu mencolok sebelum dan sesudah melakukan oplas. Lalu, untuk apa mereka oplas kalau sebenarnya dengan tidak oplas mereka justru sempurna? Dengan oplas mereka justru menambahkan sesuatu yang tidak alami ke dalam tubuh mereka, itulah yang membuatnya tidak sempurna. Hal ini menimbulkan gosip tidak enak di sana, para artis yang tidak oplas pun ikut digosipkan oplas. Dan, saya memiliki anggapan tentang artis Korea: antara yang 'asli' dan yang 'palsu' itu pun sulit dibedakan. Yup, negara ini meraih sebutan plastic surgery country.
Hal lainnya adalah manajemen artisnya yang hebat. Ya, saya mengikuti sedikit perkembangannya. Bagaimana manajemen artis menciptakan image yang wah terhadap artis mereka. Ya, artis memanglah aset yang mesti dijaga oleh manajemen. Tapi, ketika melihat artis Korea, saya menganggap bahwa manajeman mereka sungguh punya andil dalam mengorbitkan artisnya. Bagaimana tidak, persaingan dunia hiburan di sana sungguh ketat. Kita tidak akan menemukan sebuah grup vokal yang beranggotakan sebelas orang, sembilan orang, dan masing-masing anggotanya memiliki fans tersendiri. Sebut saja: Super Junior, SNSD a.k.a Girls Generation, After School, BEAST, dll. Bagaimana manajemen melindungi mereka dari gosip tak sedap, itu sungguh luar biasa. Fansnya pun luar biasa, bahkan ketika ada gosip tentang hubungan sesama artis fansnya memberikan kecaman yang juga, luar biasa terhadap artis yang digosipkan dekat dengan idola mereka. Menyeramkan.
Ketiga, fenomena bunuh diri di kalangan artis Korea cukup membuat saya berdecak. Tidak hanya satu-dua saja. Kebanyakan karena frustasi tentang karirnya, tuntutan biaya hidup, penampilan di depan umum, perselisihan dengan pihak manajemen. Hm, sebegitu pentingkah menjadi terkenal?
Di lain sisi, ada satu hal yang membuat saya heran. Bukankah Korea masih memiliki perselisihan dengan saudaranya di utara? Bukankah di sana masih ada yang namanya wajib militer? Lalu kenapa bisa hiburan di sana justru membooming? Bahkan mereka mengadakan kerjasama entertainment dengan negara 'serumpun' seperti Jepang, Taiwan, Cina, bahkan Thailand. Kalau mau dibandingkan dengan Indonesia:
1. Biarpun artis kita dituntut untuk berpenampilan menarik, oplas bukan prioritas utama mereka (walaupun memang ada yang melakukan oplas). Fenomena meminta ijin kedua orang tua untuk melakukan oplas saat cukup umur tidak terjadi di negara kita.
2. Biarpun artis kita memang public figure, tapi fansnya tidak terlalu mengagung-agungkan seperti yang terjadi di Korea. Kita sadar sepenuhnya bahwa, artis juga manusia.
3. Saya bersyukur pekerjaan menjadi entertainer di negara kita tidak banyak memakan korban bunuh diri. Alhamdulillah, sebagian besar menyeimbangkannya dengan agama sehingga mereka masih percaya Tuhanlah yang memberi segalanya, Ia pun yang mengambil milikNya kembali.
Baiklah, ketika kita sedang menikmati mimpi di tengah-tengah tidur kita yang nyenyak, ada baiknya kita harus ingat kapan kita akan terjaga. Ketika kita sedang demam, kita harus mengompresnya supaya cepat sembuh ^^
Jumat, 20 Agustus 2010
Demam Jepang -> Korea (1)


Pernah saya bertanya-tanya, apa yang membuat saya akhir-akhir ini suka pada hal-hal yang berbau Korea. Padahal dulu, saya suka sekali pada hal-hal yang berbau Jepang. Mengenai Jepang, memang awalnya saya tertarik untuk mempelajari hurufnya yang unik. Hanya sebatas itu. Beruntungnya, SMP saya membuka ekstrakurikuler baru: Bahasa Jepang. Kemudian saya suka mempelajari budayanya, mulai dari baju kimono dan yukata, desain rumahnya yang unik -yang terbuat dari kertas- dan pintu gesernya, tradisi minum tehnya, cara bicaranya yang pendek-pendek namun menghentak, tentang geisha, dan lain-lain. Tetapi tiba-tiba ketertarikan saya mulai luntur ketika dosen elektif saya menurunkan motivasi saya untuk belajar Jepang. Pertemuan pertama beliau mengatakan:
"…saya pikir kenapa fakultas keperawatan mengadakan elektif Bahasa Jepang? Mungkin karena Anda ingin menjadi perawat di Jepang? Kemudian saya mencari-cari artikel tentang kangoshi/kangofu (perawat) yang bekerja di Jepang. Ternyata, perawat yang ingin bekerja di Jepang harus melewati beberapa tes. Namun, setelah lulus tes, Anda tidak secara otomatis langsung menjadi perawat, melainkan ditempatkan di panti jompo…"
(penurunan motivasi tingkat 1)
"…jika Anda ingin bekerja di rumah sakit Jepang, maka Anda harus melewati satu tes lagi yaitu tes huruf kanji. Orang Jepang sendiri belum tentu bisa mempelajari huruf kanji ini…"
(penurunan motivasi tingkat 2)
Kemudian saya mendengar radio, dikatakan bahwa biaya hidup termahal adalah Negara Jepang. (penurunan motivasi tingkat 3)
Hal ini mempengaruhi pandangan saya tentang Jepang. Awal saya memilih elektif Bahasa Jepang memang bukan untuk bekerja di sana, memang belum terpikirkan oleh saya. Saya memilihnya karena sekedar suka dan ingin mempelajari Jepang. Namun dengan perkataan-perkataan tadi, itu justru membuat saya berpaling. Jujur waktu itu saya langsung ill feel dan ingin mengubah elektif saya ke psikologi saja, tapi pasti ribet. Jadinya saya teruskan walaupun semangat belajar saya menjadi kendor. Saya merasakan perbedaan ketika saya mempelajari Jepang waktu SMP dengan sekarang. Dulu, saya selalu berebut dengan teman lain untuk menjawab pertanyaan, yang juga berarti memperebutkan hadiah. Sekarang…nilai BC pun saya sudah bersyukur.
Nah, bagaimana dengan Korea? Simpel saja, saya suka karena artisnya. Wahaha…
Saya menganggap semua drama Asia yang ditayangkan di "TV Ikan" itu kalau logatnya bukan Jepang ya berarti dari Cina. Eh, ternyata tidak. Walaupun sama-sama Asianya (baca: sipit), ada yang dari Taiwan atau Korea. Nah, kebetulan drama yang membuat saya mematung di depan TV adalah drama Full House, Princess Hours, dan lebih membooming lagi, Boys Before Flowers. Dari mata, jatuh ke hati. Kemudian saya ingin tahu lebih banyak lagi tentang Korea.
Wah…nggak habis-habis nih kalau diteruskan. Haha…saya akan lanjutkan di posting berikutnya apa yang membuat mata saya terbuka lebar, tentang Korea. Hm, bagaimana dengan Anda? Apakah ada yang membuat Anda menjadi 'demam'?
Senin, 16 Agustus 2010
My Little Bride

Postingan kali ini tentang film Korea lagi. Judulnya My Little Bride. Film ini dibintangi oleh artis Korea yang imut, Moon Geun Young. Ceritanya berawal dari kakek Bo Eun (Moon Geun Young) dan Sang Min yang bersahabat. Mereka berdua berjanji akan menjodohkan anak-anak mereka. Namun karena keduanya sama-sama memiliki anak laki-laki, maka perjodohan itu pun jatuh kepada cucu mereka. Ketika kakek Bo Eun memberitahu ini, Bo Eun dan Sang Min merasa tidak siap. Pasalnya, Bo Eun masih sekolah dan Sang Min adalah playboy yang tidak siap untuk menikah. Melihat keduanya yang tidak setuju, kakek mereka berusaha menuntut orangtua masing-masing agar anak mereka mau menikah, bahkan kakek mereka pura-pura sekarat di rumah sakit agar kedua cucunya mau menikah.
Alhasil, keduanya pun menikah secara diam-diam. Keluarga mereka menyembunyikan pernikahan mereka, kecuali kepada sahabat Bo Eun dan kepala sekolahnya yang merupakan junior kakek Bo Eun. Keduanya berniat untuk berbulan madu di pulau Jeju. Namun di bandara Bo Eun berusaha untuk melarikan diri dengan ijin ke kamar mandi. Akhirnya, Sang Min pergi ke pulau Jeju sendirian. Di sana, ia bertemu dengan rombongan teman sekolah Bo Eun yang juga tour wisata. Ia berkali-kali ditanya soal Bo Eun oleh sahabat Bo Eun yang mulai curiga Sang Min selalu berjalan-jalan sendiri. Ia juga dicurigai oleh guru Bo Eun yang galak, Miss Kim. Sedangkan Bo Eun menghabiskan waktunya dengan Jung Woo, bintang lapangan baseball di sekolahnya. Sekembalinya dari pulau Jeju, Sang Min bertemu Bo Eun di depan rumah. Mereka pun berakting seperti baru pulang dari bulan madu.
Di sekolah, sahabat Bo Eun bertanya kepadanya tentang apa saja yang dilakukan Bo Eun selama Sang Min ke pulau Jeju. Ketika Bo Eun membeberkan bahwa ia berkencan dengan Jung Woo, sahabatnya pun marah dan kecewa karena selain Bo Eun telah memiliki suami, ternyata sahabatnya pun menyukai Jung Woo. Nah, saat Bo Eun menemani Jung Woo bertanding baseball, Bo Eun tidak mengetahui bahwa pertandingan itu disiarkan di televisi. Secara tak sengaja Sang Min melihatnya. Namun ia pura-pura tak tahu.
Konflik mulai memuncak ketika Sang Min memperoleh penempatan sebagai guru di sekolah Bo Eun. Mengetahui Sang Min diangkat menjadi guru, Miss Kim yang tadinya galak terhadap Sang Min mulai menaruh hati padanya. Ia menggoda Sang Min habis-habisan. Ia pun nekat mencari alamat Sang Min untuk mendatangi rumahnya. ini membuat Bo Eun dan Sang Min kelimpungan membereskan barang-barang yang bisa membongkar kedok mereka. Lama-lama, karena ketidaksengajaan, Miss Kim mulai mengetahui bahwa Sang Min dan Bo Eun adalah suami istri. Tingkah lakunya pun berubah kembali menjadi galak, ia tega menyuruh Bo Eun bekerja sendiri mengecat panggung. Masalah lain pun terjadi ketika adik Bo Eun memutar rekaman di ruang keluarga di mana terdapat gambar Bo Eun dan Jung Woo sedang kencan.
Hm, bagaimana akhirnya nasib Bo Eun, akankah ia dapat meneruskan cita-citanya ke universitas? Bagaimana dengan hubungannya, terus dengan Sang Min atau Jung Woo? Bagaimana dengan sahabatnya dan Miss Kim?