Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Agustus 2010

My Favorite Teacher




Pernah punya guru favorit?
Pastinya pernah ya.

Sewaktu SMP saya punya guru favorit, sebut saja Mr. A dan Mr. B.

Mr. A adalah guru fisika yang suka bercanda walaupun sangat disiplin. Pelajaran fisika yang menjadi momok tidak lagi menegangkan. Saya tidak terpaku sama banyaknya rumus yang (meminjam istilah teman) alaihum gambreng >,< banyaknya naudzubillah… Dan, ternyata di momen inilah satu-satunya nilai 10 fisika yang saya dapatkan (menyedihkaaan T_T).

Mr. B adalah guru matematika yang sama sekali tidak suka bercanda malah lebih disiplin lagi. Beliau sangat cerdas di bidangnya. Malahan, buku diktat kami beliau sendiri yang menyusunnya. Waw, hebat. Terkadang beliau membuat soal yang membutuhkan pemikiran ekstra. Namun saya mencoba menganggap soal itu sebagai permainan saja, sehingga pelajaran tersebut menjadi mengasyikkan. Beberapa hal yang saya ingat dari guru saya yang satu ini adalah, kalau kita lebih memperhatikan lebih seksama sesuatu di luar jendela daripada apa yang beliau terangkan di dalam kelas, maka Mr. B akan menyuruh kita keluar. Hal lainnya adalah beliau sering memberikan wejangan bahkan ketika kami terlambat atau tidak bisa menjawab soal yang beliau berikan. Saya menanggapinya positif, namun sepertinya tidak bagi sebagian besar teman-teman saya. Rasa takut tampaknya terlalu besar sehingga ketika Mr. B bertanya, sebagian besar lebih memilih diam.
Yang saya kagumi dari beliau adalah, beliau mempersilakan mempelajari buku lain dan mendiskusikan soal yang tidak biasa di kelas. Murid pun boleh mencari soal.

Sewaktu SMA, guru favoritku Mr. C dan Mrs. D

Mr. C adalah guru biologiku. Hm, cara belajarnya lebih mirip sama Mr. B tapi nggak galak-galak amat. Beliau lebih suka mengajak kami belajar di lab, walaupun tidak praktek. Yah, mungkin untuk membangun lingkungan belajar yang mendukung? May be…

Mrs. D adalah guru bahasa Inggrisku. Wah beliau memiliki strategi belajar yang unik. Mulai dari membuat tempat duduk berbentuk lingkaran sehingga kami bisa berdiskusi lebih nyaman, bahkan beliau membuat cerita yang mengasyikkan dalam bahasa Inggris sehingga kami mendengarnya seperti berbahasa ibu. Mudah dimengerti.

Mereka adalah beberapa orang yang menginspirasi saya akan perubahan dalam cara mengajar seperti mengisi botol kosong. Ada banyak cara kreatif yang bisa mengasyikkan…bagaimana dengan Anda?

Selasa, 10 Agustus 2010

A Hope from Best Friend




Doa seorang yang rindu akan sahabat-sahabatnya:
Tuhan, berikanlah kemudahan bagi mereka dalam meraih kesuksesan
Ingatkanlah selalu akan diriku untuk selalu menantikan kabar mereka
Pertemukanlah kami ketika kami sukses nanti…

Jumat, 06 Agustus 2010

Missing That Time (3)

Aku akan menulis tentang sekumpulan orang yang memilih untuk bersama. Memang, untuk diriku sendiri mereka adalah sekumpulan orang yang juga tidak sempurna. Aku benar-benar bisa menemukan tempatku di antara mereka. Di dalam kumpulan ini, aku benar-benar diperlakukan sebagai teman, sebagai manusia. Ketika aku bersama mereka, seakan-akan aku dibawa menyusuri tawanya, walaupun sebenarnya bukan diriku yang mengalami kesenangan itu, tapi dalam cerita mereka seakan-akan akulah peran utama yang mereka perbincangkan, dan itu membuatku tertawa. Entah, perbedaan yang benar-benar mencolok di antara kami menjadi samar. Kami bisa berjalan sejajar dengan tetap memahami siapa yang berada di samping kami.
Padahal kami benar-benar tahu, masing-masing dari kami memiliki egois yang luar biasa besar.
Kami mengakuinya tanpa perlu menuliskan sebuah perjanjian.

Di lain sisi, aku pun mengalami waktu di mana aku merasa bahwa merekalah orang terjahat di dunia. Aku pun pernah merasa bahwa mereka orang yang tidak mau memahamiku.
Orang-orang ini terkadang cukup tertutup, cukup jahat untuk tidak berbagi dengan orang yang mereka anggap teman dekat.
Orang-orang ini terkadang cukup banyak alasan, cukup meragukan untuk disebut sebagai teman dekat.
Orang-orang ini terkadang terlalu banyak teman, sehingga cukup merepotkan juga untuk diajak berbicara sebagai teman dekat.
Orang-orang ini terkadang cukup pendiam sehingga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada mereka.
Orang-orang ini terkadang terlalu memerintah, sehingga cukup lelah untuk mendengarkan mereka dan lebih memilih untuk menyerah saja.
Tetapi, orang-orang ini terkadang terlalu cepat hilang sehingga mereka cukup pantas untuk dirindukan.
Merekalah orang-orang pertama yang secara 'lancang' mengkritik diriku secara ramai-ramai. Mereka yang dengan 'lancang' berkata apa adanya tentang diriku. Membuat hatiku menciut, ingin marah, memberontak, tapi aku masih bisa tersenyum.

Namun, aku menjadi lega karena justru itu membuatku mengerti bahwa aku belum benar-benar mengenali diriku sendiri. Aku menjadi tahu siapa aku dan bagaimana aku. Itu membuatku sadar bahwa sebenarnya:

  • Ketika aku merasa bahwa merekalah orang terjahat di dunia karena merekalah orang terdekatku
  • Ketika aku merasa bahwa mereka orang yang tidak mau memahamiku karena aku memang benar-benar membutuhkan mereka

Bagaimanapun, soerang teman belum layak dikatakan sebagai teman ketika mereka belum mengalami konflik. Siapa bilang mereka rukun? Pertengkaran mereka jauh lebih sering dibandingkan kekompakannya. Satu orang membicarakan yang lain di belakangnya. Mereka berbicara tentang kelayakan, sifat buruk, sampai kemarahan yang jauh lebih jahat. Namun, seiring dengan waktu kami memang dipaksa untuk bersikap lebih dewasa. Kami akhirnya menemukan bahwa esensi dari hubungan ini adalah perbedaan. Kami menyebutnya keunikan. Ya, baik buruk masing-masing di antara kami memang itulah diri kami.



Kamis, 05 Agustus 2010

Missing That Time (2)


Ada yang bilang masa-masa paling indah adalah masa SMA. Setuju nggak? Ah setuju aja deh :D

SMA, masa-masa 'pencarian jati diri'. Justru saat itu kami merasa bebas bertindak kekanak-kanakan. Beruntungnya, aku tergabung dalam kelas yang kompak (atau bandel). Sebagian besar murid laki-lakinya terkenal bandel. Saya masih ingat beberapa hal yang membuat kelas kami disukai murid kelas lain:


  1. Punya pemerintahan yang nyantai. Ya, pemerintahan di sini adalah perangkat kelas. Tapi, saat itu aku merasa semua anggota kelasku punya jabatan 'ketua kelas' sebab tidak ada yang dominan. Semua berhak berbicara. Yah, kadang-kadang diperlukan penengah.
  2. Punya mading kelas. Kalau bicara soal kreatifitas di kelas kami nggak ada habisnya. Mading kelas kami ada pengelolanya. Semua bebas menulis. Selain itu, ada tempelan kertas putih di pintu pembatas dengan kelas sebelah yang penuh testimoni dan tanda tangan seluruh anggota kelas. Bahkan setelah lulus ada yang masih ingin membawanya pulang untuk kenangan. Sayang sudah tidak ada. Mengenai tanda tangan, ada yang lebih menghebohkan lagi. Saya pernah iseng mencoret ubin lantai dengan tipe-x. Saya membuat tanda tangan saya sebesar kotak ubin. Tampaknya, ada teman saya yang tertarik, jadilah satu kelas meniru langkah saya mengabadikan tanda tangan di atas ubin. Eh...baru beberapa waktu, guru matematika saya saat itu berjalan ke belakang. Beliau melihat hasil karya kami. Kami kira beliau senang, ternyata...marah! Sebelum coretan kami dihapus, beliau tidak akan mengajar lagi. Alhasil, kami kelimpungan mencari minyak gas. Ah, sayang...
  3. Setiap jam kosong kami punya 'ritual' rutin. Mengosongkan kelas menuju musholla. Bagi teman-teman yang melihat kami beramai-ramai ke musholla mungkin kagum, padahal kami ke sana belum tentu beribadah...ngadem aja. Kami pernah merasa bersalah pada seorang guru yang mendapati kelas kami kosong, kami kira beliau tidak masuk.
  4. Nah, ini yang paling disukai teman kelas lain. Target jalan-jalan kelasku banyak.








Hmm...sekarang kami terpisah mengejar impian dan cita-cita kami masing-masing. Setiap individu ternyata punya mimpi sendiri. Aku yakin, Tuhan akan mempertemukan kami kembali di saat sukses. Amin.

Selasa, 03 Agustus 2010

Missing that Time (1)




Akhir-akhir ini memang aku begitu terbayang dengan kenangan MOS, DIKLAT. Wah, kapan ya aku bisa punya teman organisasi seperti OSIS EXCELLENT? Hm…foto mereka aku bawa ke Surabaya. Juga PADUWA. Kalau aku kangen, aku tinggal menoleh, tapi itu tidak cukup untuk mengobati kangenku.

Waktu SMA, aku ingat bergabung dengan mereka awalnya dengan suatu keraguan. Maklum, aku berasal dari SMP luar kota. Praktis, aku tidak memiliki teman akrab yang sepenanggungan ketika masuk di SMA. SMA ini, terkenal dengan OSISnya yang disiplin. Tidak bisa dipungkiri, saat aku menjadi murid baru aku keder mendengarnya. Penampilan mereka gampang dikenal: seragam kebesaran mereka -atasan putih lengan panjang dan bawahan abu-abu-, topi yang kalau tidak dipakai diselipkan di ikat pinggang bagian belakang, kaos kaki panjang 10 centimeter di bawah lutut, dan sepatu fantovel. Tampak elegan. Siapapun yang melihatnya, pasti langsung bisa menebak kalau mereka berasal dari SMAku. Ya, memang bukan sekedar gosip. Memang terbukti saat aku MOS kakak-kakak OSIS memang menjadi pusat perhatian. Aku pun tidak tahu apa sebenarnya yang membuatku kagum kepada mereka. Kalau mereka waktu itu menjadi pusat perhatian karena memang suka mencari kesalahan murid baru, terus bentak-bentak, itu wajar. Tapi apa ya...melihat mereka menjadi satu kesatuan yang kompak, itu menimbulkan aura tersendiri buatku.

Berbekal nekat, aku pun ikut pemilihan pengurus OSIS waktu itu. Ya, aku memang tidak kenal siapa-siapa. Keraguanku menjadi sebuah keyakinan ketika aku mengenal sosok Sari, teman sekelasku yang juga ingin mengikuti seleksi.

seleksi saat itu diadakan selama 3 hari. Hari pertama, tes tulis. Aku dan Sari lolos. Hari kedua, interview. Aku dan Sari lolos. Hari ketiga, pemecahan kasus. Sayangnya, aku tidak lolos. Namun aku masih bisa bersyukur Sari lolos. Pengumuman di mading saat itu tertulis bahwa panitia akan membuka pendaftaran gelombang kedua. Namun aku menemui keraguan lagi. Maklum, sudah lelah dan jarak rumahku yang jauh dari sekolah memperkuat keraguan itu. Saat itu, Sari sudah memulai kesibukannya di Ruang OSIS yang menurutku 'Ruangan Eksklusif'. Suatu keberuntungan, di jalan menuju kelas aku berpapasan dengan Sari yang terlihat terburu-buru. Ia menyapaku, "Kin, kamu harus ikut gelombang kedua ya, ayo aku dukung kamu!", kemudian ia pergi menyusul kakak-kakak OSIS yang lain. Singkat namun bermakna. Beberapa detik itu, membuat semangatku bangkit lagi.

Ketika seleksi gelombang pertama aku sempat berkenalan dengan Rizka. Aku bertemu dengannya di depan kelasku. Aku menanyakan kepadanya apakah ia akan ikut lagi seleksi gelombang kedua. "Ya", jawabnya. Dan kami bertemu kembali di seleksi kedua.

Singkat cerita, dengan model seleksi yang sama, aku dan Rizka diterima. Dan ternyata di seleksi kedua hanya mengambil dua orang saja. Itu berarti aku dan Rizka orang-orang terakhir yang menggenapi pengurus baru! Kemudian beberapa teman yang lolos seleksi pertama pun datang mengerubungi mengucapkan selamat. Aku merasa beruntung, bahwa di seleksi aku dan Rizka diberangkatkan bersama saat memasuki pos interview. Mungkin saat itu kakak-kakak menguji kelayakan kami? Aku juga pernah diberitahu oleh seorang kakak bahwa sebenarnya mereka menguji apakah aku benar-benar berniat menjadi pengurus OSIS dengan jarak rumahku yang jauh, dan ternyata, I came to the second time...

Ah...perjuangan memasuki organisasi ini cukup panjang. Itu alasanku mencintai organisasi ini sampai sekarang dan berharap menemukan atmosfir yang sama seperti saat itu di tempat lain. Dengan perjuangan yang membuat kami menjadi saudara sepenanggungan, kami menjadi rindu untuk hadir dalam setiap rapat yang bagi kami adalah sebuah percakapan sederhana. Dengan persaudaraannya, membuat kami mempelajari karakteristik masing-masing pengurus. Kami tidak hanya tertawa tergelak bersama saat rapat, kami juga pernah bertengkar saling silat lidah. Perjuangan itu, membuat kami cinta pada 'pekerjaan' ini.

Saat menjadi senior di organisasi ini, giliranku ikut serta dalam pemilihan pengurus baru. Jadi begini rasanya memperdebatkan siapa saja yang layak masuk dalam organisasi ini. Dulu, mungkin aku juga diperdebatkan seperti ini. Sayang rasanya mendengar bahwa saat aku lulus, memasuki organisasi ini begitu mudah. Semua hampir dikendalikan guru. Aku takut nilai esensialnya kurang. Aku takut nilai perjuangan itu kurang sehingga 'penerus' kami tidak merasa cinta terhadap organisasinya. Terhadap keluarganya.

Hm...aku beruntung memiliki mereka...

(Terima kasih kepada teman-teman OSIS HORAS, OSIS BEDA, dan OSIS EXELLENT, kalian guru bagiku)

Rabu, 28 Juli 2010

Kota Kecilku



Kalau kita mengetikkan kata 'bondowoso' di situs wikipedia, maka akan muncul informasi sebagai berikut:

"Kabupaten Bondowoso, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Bondowoso. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di utara, Kabupaten Banyuwangi di timur, Kabupaten Jember di selatan, serta Kabupaten Probolinggo di barat. Ibukota kabupaten Bondowoso berada di persimpangan jalur dari Besuki dan Situbondo menuju Jember…"

Kota kecilku ini sangat terkenal dengan tapenya. Sebenarnya, wisata alamnyapun kaya, namun kurang dipromosikan.

Hm, sesuatu yang membuatku menulis di sini adalah keadaan kotaku yang bisa dibilang adem ayem. Saat pulang dari Surabaya, sebuah kota besar yang ramai menuju ke kampung halaman yang begitu tenang memang membuat nyaman. Tapi, ketika akan kembali lagi ke Surabaya dari kota kecil ini, hati begitu tidak ikhlas meninggalkannya. Masih terlena dengan ketenangan dan kenyamannya.

Kadang aku heran saat mengamati betapa sepi jalanannya. Ke mana orang-orang? Mungkin perbedaan itu diperlukan; kota terlihat padat dan ramai, sementara desa terlihat sepi dan tenang. Tapi, aku rasa mungkin inilah yang membuat kotaku tidak dikenal? Mungkinkah karena orang-orangnya yang intelek justru pergi dari kampungnya?

Yah, bagaimanapun, kota kecilku ini cocok untuk beristirahat karena cukup membuat kangen untuk kembali lagi.

Kamis, 01 Juli 2010

Short Story: A Dream of Early June




Awal bulan Juni. Saat bangun dari tidurku, aku sedikit tersentak menyadari mimpi tadi malam. Aku baru menyadari ternyata sahabatku yang dulu sempat dekat lewat chatting, yang dulu pernah melontarkan sedikit kalimat yang membuatku melambung tinggi dan memberikan harapan yang sampai sekarang masih mengalir di hatiku, semalam hadir memberikan arti tersendiri dalam mimpiku. Di dalam mimpi itu, aku masih duduk di bangku SMA. Mengikuti pelajaran dengan wali kelas yang sama. Sedikitpun tak terlintas bahwa aku sedang bermimpi…
Dalam mimpi itu, ada seseorang yang memberitahu wali kelas bahwa dirimu tidak hadir. Waktu itu, alangkah cemasnya aku mengetahui hal itu karena mereka tidak tahu mengapa kamu tidak masuk. Aku merasakan segenap perasaan yang tidak nyaman, sepertinya jantungku berdegup dengan kencangnya. Aku tidak bisa menyelesaikan tugas dari wali kelas.
Kemudian, secara serta merta kamu datang dan duduk setelah meminta ijin untuk masuk karena terlambat. Saat itu, sobat, mataku terus mencarimu, mengikutimu hingga kau melihat ke arahku. Namun kau hanya berbicara dengan teman-teman yang lain. Aku pun mendengar dengan jelas suaramu. Jelas sekali itu suaramu! Kemudian, aku memanggilmu. Saat kau menoleh, aku memasang ekspresi apapun yang menunjukkan bahwa aku khawatir, "Dari mana?". Kaupun melemparkan padaku dua buah jeruk yang sudah kau kupas sambil berkata padaku, "Maaf…maaf". Seolah-olah kau memahami bahwa aku begitu mengkhawatirkanmu. Saat itu sobat, melihat wajahmu yang begitu tenang cukup meredakan degup jantungku yang keras.

Saat aku menyadarinya waktu bangun tidur, jantungku kembali berdegup kencang dan air matapun mengalir dari dua mataku. Aku merindukanmu, sobat… apa yang harus kulakukan? Harapan yang kau berikan itu, sekarang masih kusimpan di hati, siapa tahu nanti aku harus membukanya kembali saat harapan itu benar-benar ada?

Kesalahanku saat kau menanyakan harapan itu kembali secara tersirat adalah, aku terlalu buta oleh mana yang nyata dan yang tidak nyata. Sungguh, awal bulan ini aku baru menyadari semuanya hanya lewat mimpi itu. Aku menyesalinya. Aku benar-benar buta, padahal yang tidak nyata tidak pernah hadir kepadaku. Aku masih menunggu sobat. Tapi aku akan diam di sini. Dengan kekhawatiranku yang benar-benar datang setelah mimpi itu.

Senin, 24 Mei 2010

Catatan Seorang Teman



Aku sering berkunjung ke kamar kos teman-temanku. Banyak yang menempelkan kata-kata motivasi di kamarnya. Ini salah satu yang menarik hatiku untuk membacanya. Memang benar, ketika kamu mempunyai mimpi, tuliskanlah dan beritahukanlah kepada teman-temanmu!

Kurang lebih tulisannya seperti ini:




Remember!!! For you the first is bismillah
1. Infaq tiap liqo’
2. Jangan menunda-nunda pekerjaan (makalah, tugas organisasi, nyuci, dll)
3. Dapat ilmu (pahami, catat, praktekkan, jarkom yang lain)  beli buku tiap 3 bulan ^_^
4. Hemat pangkal kaya  nabung donk ^_^
5. Hidup bersih. Wajib apalagi cewek !!!
6. Syuro’ tiap bulan  dept. keilmiahan
7. Update info (ga’ boleh apatis)
8. Dalam hidup, banyaklah memberi, bukan banyak menerima
9. Always rendah hati, but tegar & tegas
10. NO SOMBONG virus
11. Jangan lupa silaturrahmi
12. Suplai ilmu (jasadiyah, ruhiyah)
13. Be yourself, and be a BETTER than B4
Yes,,, I CAN!!!
“…dan tidak ada sesuatu kekuatan apapun dan kebaikan apapun melainkan itu semua datang dari Allah.” Semoga istiqomah ^_^



Wah sepertinya aku harus meniru membuat kalimat motivasi di kamarku deh, biar hidup lebih terncana.