Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Film. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 September 2010

Super Hap



Tidak biasanya saya suka film Thailand. Yang saya tahu film Thailand itu biasanya bergenre horor. Tapi kali ini saya cukup dibuat penasaran sama film yang nyantai. Harus saya akui, nama asli pemeran film ini tidak singkat seperti di dalam ceritanya, juga cukup unik. Mendengarnya pertama kali mampu membuat saya tertawa. Ambil contoh, si pemeran tokoh utama Tom bernama asli Rattapom Tokongsub. Unik bukan? Saya masih beranggapan kalau bahasa Thailand itu lucu untuk didengar, seperti kata Eko Patrio yang selalu membuat lelucon tentang bahasa Thailand di acara Mamamia!

Cerita berawal dengan kisah masing-masing tokoh. Tokoh pertama yang diceritakan adalah Tom. Ia adalah pemuda dengan bakat menari. Ia memiliki wajah yang tampan namun satu-satunya kekurangan yang ia miliki adalah suaranya yang buruk. Ia punya masalah ekonomi sehingga harus menunggak uang sewa rumahnya sampai ia diusir. Tokoh kedua adalah Teung Lee Hei. Berbeda dengan Tom, ia tidak memiliki kemampuan menari, wajahnya pun jauh dari tampan. Ia adalah pria hitam dan gendut, namun justru memiliki suara yang indah. Kehidupannya lumayan mapan sebelum ia dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja karena secara diam-diam mempromosikan lagu ciptaannya sendiri. Kemudian keduanya dipertemukan melalui part lucu. Keduanya sedang berbincang di telepon. Tom mengatakan bahwa ia sedang berada di Phuket mengalami kesulitan keuangan dan meminta bantuan sahabatnya itu. Namun Teung berkata ia sedang berada di Chiang Mai jadi ia tidak bisa membantunya, padahal saat ia berbicara seperti itu Tom sedang menatapnya di lampu merah pinggir jalan, berdiri beberapa meter darinya. Mengetahui sahabatnya yang sama-sama berbohong, mereka pun saling memaki.

Keduanya memiliki kebiasaan unik, yaitu lipsync. Jadi kalau ada gadis yang cantik, Tom akan berdiri di depan Teung seolah-olah itu adalah suaranya. Keisengan Tom pun muncul saat mendengar rekaman lagu Teung. Ia merekam dirinya menyanyikan lagu itu (ceritanya kayak SinJo - Keong Racun) kemudian menguploadnya ke muzikmania.com (sejenis youtube). Rekaman itu sampai di meja perusahaan yang hampir bangkrut, Double Dream Record. Mereka menawarkan kerjasama pada Tom, namun mengetahui keadaan yang sebenarnya, perusahaan itu mengurungkan niatnya. Keadaan berubah saat perusahaan mengetahui lagu yang diupload Tom menjadi populer di dunia maya. Mereka pun kembali mengadakan perjanjian sampai satu album saja karena mereka tidak mau membohongi publik lebih lama. Namun konflik sebenarnya adalah saat Tom mengalami flu berat yang justru membuat suaranya normal. Keadaan ini membuat Teung sedikit tersisihkan. Ia pergi jauh justru pada saat konser terakhirnya diadakan, saat suara Tom akan kembali lagi menjadi buruk sembuh dari flu.

Ya, jadi intinya film ini menceritakan tentang dua orang sahabat yang saling melengkapi dan menutupi kekurangan satu sama lain.



Selasa, 14 September 2010

Mona Lisa Smile



    Ini cerita tentang film lawas, Mona Lisa Smile. Seperti yang Anda lihat pada foto di atas, film ini dibintangi oleh Julia Roberts.

    Film ini bercerita tentang kehidupan di Universitas Wellesley. Yah, satu lagi film tentang pendidikan yang menginspirasi saya. Di sini, Julia Roberts berperan sebagai Katherine Watson, seorang dosen baru di bidang sejarah seni. Dia datang dari California menuju universitas paling konservatif di Amerika. Dia datang ke sana untuk membawa perubahan. Hm, sepertinya kita dibawa masuk ke jaman Kartini. Cuma bedanya, karena settingnya di Amerika jadinya seperti Kartini modern. Nah, di awal film kita akan dibawa menuju part yang paling saya suka. Part tersebut menggambarkan sebuah penerimaan mahasiswa setelah liburan musim panas (musim gugur tahun 1953). Para pengajar berbaris di dalam sebuah gereja sedangkan mahasiswinya akan menunggu pintu dibuka di luar gereja. Terlihat mahasiswi terpintar Joan Brandwyn berlari menuju barisan terdepan. Di dalam gedung, Dekan Universitas Wellesley menunggu di depan pintu yang masih tertutup. Joan kemudian mengambil palu dan mengetukkanya ke pintu gereja empat kali. Kemudian sang dekan menjawab ketukan itu, "Who knocks at the door of learning?" (Siapa yang mengetuk pintu pengetahuan?).

    Joan

    "I am everywoman" (Aku adalah setiap wanita) sejalan dengan percakapan ini, pintu gereja perlahan dibuka.

    Dekan

    "What do you seek?" (Apa yang kau cari?)

    Joan

    "To waking my spirit through my hard work and dedicate my life to knowledge" (Untuk membangun semangatku dengan kerja keras dan mendedikasikan hidupku untuk pengetahuan)

    Dekan

    "Then you are welcome. All the women who seek and follow you can enter here. I now declare the academic year began." (Maka kau diterima. Semua wanita yang mengikutimu dapat masuk ke mari. Aku mengumumkan bahwa tahun akademik dimulai).

    Maka Joan masuk dan menyalami dekan diikuti oleh mahasiswi lain. Ah, sungguh part yang saya suka. Andai setiap universitas melakukan ini, maka kebanggaan akan menjadi almamater sungguh tiada terkira.

    Kemudian Katherine si dosen baru mencari tempat penginapan. Di tempat pertama, ia dibawa ke asrama mahasiswi. Peraturan di tempat itu membuat Katherine tidak bisa menempatinya. Memang sih, menurut saya peraturannya tidak masuk akal:

  1. Tidak boleh ada lubang di dinding (itu berarti saya tidak boleh menghias kamar saya)
  2. Tidak boleh ada hewan peliharaan (tidak masalah, karena saya tidak punya hewan peliharaan)
  3. Suara bising, radio, atau kaset setelah pukul 8 untuk hari biasa dan pukul 10 untuk akhir pekan (bayangkan, untuk mendengar musik pun diatur!)
  4. Tak boleh ada piring panas (mana tahaaaan?)
  5. Tak boleh ada pengunjung pria (wajar, namanya juga asrama)
  6. Katherine pun mencari penginapan lainnya. Kali ini dia menuju penginapan dosen yang dikelola oleh dosen yang mengajar pidato, pelatihan, dan puisi. Pantesan, setiap gerak-geriknya tertata rapi sekali. Peraturan di tempat baru ini cukup ringan: makan malam bersama namun untuk sarapan dan makan siang disiapkan sendiri-sendiri, selain itu masing-masing memiliki rak sendiri di kulkas. Setiap orang memberi label pada raknya.

    Part lain yang bikin saya kagum (walaupun sebenarnya hal ini tidak boleh terjadi) adalah saat pertama Katherine mengajar. Di sini ia bertemu Amanda Armstrong si perawat sebelum masuk kelas. Entah kenapa (apa karena saya kuliah di jurusan perawat?) saya suka sosok Amanda Armstrong, seorang wanita yang independen menurut saya. Ia mewanti-wanti Katherine, "Be careful. They can smell fear" (Hati-hati. Mereka bisa cium rasa takut.). Yup, suatu ungkapan yang bagus untuk menggambarkan mahasiswi Universitas Wellesley. Katherine pun masuk memberi pelajaran Sejarah Seni 100 Tahun. Ada yang mempersiapkan slide, mematikan lampu, sebelum Katherine meminta tolong. Nah, saat sang dosen mulai menerangkan pelajaran, ia dibuat mati gaya karena seluruh mahasiswinya mampu menjawab semua pertanyaan. Bahkan, saat Katherine hanya mengganti slide, para mahasiswi langsung menyebutkan nama lukisan, pelukis, tahun, dan keunikannya. Setelah ditanya siapa saja yang sudah pernah kuliah sejarah seni sebelumnya, mereka semuanya menjawab belum pernah. Tapi, ketika ditanya siapa yang sudah membaca seluruh naskahnya, semua mengacungkan tangan. Wah, dosen di sini benar-benar jadi bulan-bulanan…apalagi ditambah dengan campur tangn para alumni. Namun Katherine mampu bertahan dengan memberikan subyek keluar dari silabus dengan pertanyaan ringan seputar seni, "Is it any good?" (Apakah itu bagus?). Tak disangka, pertanyaan ringan ini menimbulkan diskusi panjang apakah seni itu bagus, buruk, siapa yang berhak menilainya, dll. Membuat ia menjadi dosen yang dikagumi.

    Masalah menjadi rumit ketika terjadi konflik antara dosen dengan anak-anak alumni, khususnya Betty Warren seorang mahasiswi yang juga editor. Ia membuat seorang Amanda Armstrong keluar dari universitas karena tulisannya. Lama-lama Katherine seperti membaca sesuatu di universitas ini, mereka seperti mempersiapkan mahasiswinya untuk menikah, mengurus suami dan bayi mereka. Yup, seperti tradisi lomba menggiring ban yang dipercaya jika memenangkan lomba ini, maka sang juara akan lebih dahulu menikah, belum lagi adanya kursus pernikahan. Maka, pada suatu waktu saat Joan mendatanginya karena ingin mengetahui mengapa Katherine memberinya nilai buruk, Joan membuat Katherine harus membaca filenya. Di sana tertulis bahwa Joan menginginkan sekolah hukum. Maka, Katherine bertanya sekolah mana yang akan ia ambil. Namun Joan hanya memikirkan menikah setelah lulus. Katherine pun menerangkan bahwa ia bisa melakukan keduanya. Joan pun berkata bahwa ia ingin masuk Yale. Dengan isengnya, Katherine menyelipkan formulir Sekolah Hukum Yale ke lembar jawaban Joan saat ulangan. Keadaan menjadi lebih rumit ketika si kritikus Betty menikah. Ia menjadi lebih seenaknya untuk tidak masuk kelas, bahkan mulai melakukan hal yang sama kepada Katherine, seperti yang ia lakukan pada Amanda. Hm, apa selanjutnya yang akan terjadi pada Betty-Katherine mengingat Betty adalah anak ketua alumni Universitas Wellesley?

    Ada beberapa hal yang tidak saya sukai dari film ini, yaitu kebebasan dalam bergaul dan wanita yang merokok. Sepertinya ini hal yang biasa di Amerika, tapi sangat kontras untuk kita.

Senin, 16 Agustus 2010

My Little Bride




Postingan kali ini tentang film Korea lagi. Judulnya My Little Bride. Film ini dibintangi oleh artis Korea yang imut, Moon Geun Young. Ceritanya berawal dari kakek Bo Eun (Moon Geun Young) dan Sang Min yang bersahabat. Mereka berdua berjanji akan menjodohkan anak-anak mereka. Namun karena keduanya sama-sama memiliki anak laki-laki, maka perjodohan itu pun jatuh kepada cucu mereka. Ketika kakek Bo Eun memberitahu ini, Bo Eun dan Sang Min merasa tidak siap. Pasalnya, Bo Eun masih sekolah dan Sang Min adalah playboy yang tidak siap untuk menikah. Melihat keduanya yang tidak setuju, kakek mereka berusaha menuntut orangtua masing-masing agar anak mereka mau menikah, bahkan kakek mereka pura-pura sekarat di rumah sakit agar kedua cucunya mau menikah.

Alhasil, keduanya pun menikah secara diam-diam. Keluarga mereka menyembunyikan pernikahan mereka, kecuali kepada sahabat Bo Eun dan kepala sekolahnya yang merupakan junior kakek Bo Eun. Keduanya berniat untuk berbulan madu di pulau Jeju. Namun di bandara Bo Eun berusaha untuk melarikan diri dengan ijin ke kamar mandi. Akhirnya, Sang Min pergi ke pulau Jeju sendirian. Di sana, ia bertemu dengan rombongan teman sekolah Bo Eun yang juga tour wisata. Ia berkali-kali ditanya soal Bo Eun oleh sahabat Bo Eun yang mulai curiga Sang Min selalu berjalan-jalan sendiri. Ia juga dicurigai oleh guru Bo Eun yang galak, Miss Kim. Sedangkan Bo Eun menghabiskan waktunya dengan Jung Woo, bintang lapangan baseball di sekolahnya. Sekembalinya dari pulau Jeju, Sang Min bertemu Bo Eun di depan rumah. Mereka pun berakting seperti baru pulang dari bulan madu.

Di sekolah, sahabat Bo Eun bertanya kepadanya tentang apa saja yang dilakukan Bo Eun selama Sang Min ke pulau Jeju. Ketika Bo Eun membeberkan bahwa ia berkencan dengan Jung Woo, sahabatnya pun marah dan kecewa karena selain Bo Eun telah memiliki suami, ternyata sahabatnya pun menyukai Jung Woo. Nah, saat Bo Eun menemani Jung Woo bertanding baseball, Bo Eun tidak mengetahui bahwa pertandingan itu disiarkan di televisi. Secara tak sengaja Sang Min melihatnya. Namun ia pura-pura tak tahu.

Konflik mulai memuncak ketika Sang Min memperoleh penempatan sebagai guru di sekolah Bo Eun. Mengetahui Sang Min diangkat menjadi guru, Miss Kim yang tadinya galak terhadap Sang Min mulai menaruh hati padanya. Ia menggoda Sang Min habis-habisan. Ia pun nekat mencari alamat Sang Min untuk mendatangi rumahnya. ini membuat Bo Eun dan Sang Min kelimpungan membereskan barang-barang yang bisa membongkar kedok mereka. Lama-lama, karena ketidaksengajaan, Miss Kim mulai mengetahui bahwa Sang Min dan Bo Eun adalah suami istri. Tingkah lakunya pun berubah kembali menjadi galak, ia tega menyuruh Bo Eun bekerja sendiri mengecat panggung. Masalah lain pun terjadi ketika adik Bo Eun memutar rekaman di ruang keluarga di mana terdapat gambar Bo Eun dan Jung Woo sedang kencan.

Hm, bagaimana akhirnya nasib Bo Eun, akankah ia dapat meneruskan cita-citanya ke universitas? Bagaimana dengan hubungannya, terus dengan Sang Min atau Jung Woo? Bagaimana dengan sahabatnya dan Miss Kim?

Kamis, 29 Juli 2010

Baby and Me





Hm,,demam Korea kali ini mulai merebak di Indonesia. Sepertinya postingan saya pun harus update dengan yang berbau Korea ya…haha. Sekedar refreshing saja, ada satu drama Korea yang santai dan ringan untuk ditonton. Ya, saya pikir adakalanya kita perlu menenangkan pikiran sejenak dengan tontonan yang ringan walaupun mungkin kita lebih suka serial detektif atau mungkin misteri yang butuh pemikiran jeli.

Oke, kali ini saya akan mengangkat film Baby and Me yang dibintangi oleh aktor yang sudah punya banyak fans di Indonesia (bahkan di kampus saya), Jang Geun Seok.

Alurnya campuran, jadi kalau meleng sedikit bisa bingung. Ceritanya, di sini Jang Geun Seok jadi Han Joon Soo, seorang anak keluarga kaya sekaligus anak tunggal. Dia suka membantu dua orang temannya yang sering berkelahi dengan preman. Tapi ternyata tabiatnya itu diturunkan dari ayahnya yang memang jago berkelahi. Suatu kali, ia hampir menabrak Kim Byeol yang berdiri di depan sekolahnya. Melihat Joon Soo yang begitu tampan, Kim Byeol terpesona dan langsung memutuskan untuk bersekolah di tempat Han Joon Soo. Berbeda dengan Han Joon Soo, Kim Byeol berasal dari keluarga sederhana dengan 9 anak, namun mendapatkan perhatian yang cukup dari orangtuanya.

Ketika sekali lagi Han Joon Soo terlibat dalam perkelahian, orangtuanya sangat murka karena lagi-lagi dipanggil oleh sekolah. Namun orangtuanya kali ini meninggalkan rumah (minggat). Mereka hanya meninggalkan sebuah rekaman yang berisi penyesalan kepada Joon Soo dan cek senilai $100 (sekitar 1 juta) untuk digunakan sehemat mungkin. Mereka janji akan kembali setelah Han Joon Soo menjadi lebih bijak.

Nah, di sinilah masalah dimulai. Saat Joon Soo membelanjakan uangnya untuk berpesta dengan temannya yang lain, ia tiba-tiba menemukan bayi di trolley belanjanya. Ia pun menyerahkannya ke petugas keamanan. Namun, petugas keamanan menemukan sepucuk surat bertuliskan nama Han Joon Soo di keranjang bayi tersebut. Jadilah mulai saat itu Han Joo Soo bertanggungjawab terhadap bayi tersebut. Mengetahui hal ini, Kim Byeol yang sudah terbiasa mengurus adik-adiknya bersedia membantu Han Joon Soo untuk mengasuh Woo Rahm. Berbagai cara Han Joon Soo lakukan mulai dari mencari siapa ibu Woo Rahm dengan menanyakan kepada mantan-mantannya hingga ia putus asa untuk mengasuh Woo Rahm. Ia sempat ingin membuang Woo Rahm dekat tong sampah. Namun entah kenapa selalu saja ada yang menggagalkannya. Ia pun pernah secara tak sengaja meninggalkan Woo Rahm di kereta, namun ikatan batinnya dengan bayi kecil itu membuatnya mencari Woo Rahm di kantor polisi.

Hal-hal mengharukan pun mulai muncul di pertengahan film di mana Joon Soo mulai kehabisan uang sementara orangtuanya belum juga kembali. Ia bekerja sebagai pelayan di sebuah bar. Di sekolah, ia pun menjadi perdebatan guru-gurunya karena membawa bayi ke sekolah. Ia pun bahkan pernah mencopet demi mendapatkan uang untuk membeli susu Woo Rahm. Di pertengahan cerita juga dijelaskan siapa sebenarnya Kim Byeol.

Film ini membuat saya terkaget-kaget dengan kemungkinan yang tidak saya pikirkan tentang siapa sebenarnya orangtua Woo Rahm. Air mata saya tidak bisa terbendung ketika Woo Rahm akan diadopsi oleh orang luar dan Joon Soo menyusulnya ke bandara.

Hm, siapa sebenarnya orangtua Woo Rahm?

Sabtu, 08 Mei 2010

3 Idiots

Seseorang yang menurutku udah mengalami kemajuan dengan prakteknya, bilang kalau ternyata dia tidak akan bekerja menjadi seorang perawat. Temanku pun sepertinya begitu. Kalau ada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, ia akan beralih. Karena sekarang bukan apa-apa yang ia pikirkan, tapi kemakmuran. Aku punya pandangan lain, apa yang kupilih, itu yang akan kujalani. Seperti waktu PMDK, aku tidak mengikuti SPMB lagi. Seperti waktu aku memutuskan untuk berada di jalur IPA, aku tidak akan ke jalur IPS.

Yup, everyone have their own view…

Mengenai ini, aku jadi teringat tentang film 3 Idiots. Awalnya aku membaca resensi film ini lewat blog: amriawan.blogspot.com. Ini film India yang dibintangi oleh Aamir Khan sebagai Punsukh Wangdu, yang menyamar sebagai seseorang bernama Ranchhodas Shamaldas Canchad (Rancho). Rancho aslinya adalah seorang anak dari keluarga kaya namun tidak memiliki kepandaian sehingga ayah Rancho membiayai Punsukh Wangdu untuk bersekolah hingga ke tingkat Perguruan Tinggi dengan memakai nama Rancho. Singkatnya, Punsukh memerlukan biaya untuk bersekolah dan ayah Rancho memerlukan ijazah untuk anaknya. Teman-temannya tidak mengetahui hal ini. Ia tetap menyembunyikan identitasnya.




Mengenai hal ini, Punsukh berjanji untuk tidak menemui lagi semua teman kuliahnya setelah ia lulus nanti. Namun ia berkata pada Rancho yang asli bahwa ada akan ada dua orang yang mencarinya. Mereka berdua adalah sahabatnya, Farhan dan Raju. Farhan adalah seseorang yang mencintai dunia fotografi, khususnya fotografi alam liar. Ia sangat menyukai Andre Estevan, seorang fotografer Hungaria. Namun ayahnya menghendakinya untuk menjadi insinyur, jadilah ia takluk kepada ayahnya. Ia tidak berani untuk mengatakan kepada ayahnya yang diktator. Teman-temannya menyebut ayahnya sebagai 'Hitler'.
Raju adalah seorang yang penakut. Ia terlalu dibayang-bayangi oleh tanggungannya sebagai anak lelaki di keluarganya yang harus mengentaskan kemiskinan. Ayahnya terkena stroke sehingga hanya bisa berbaring di dipan. Ibunya seorang pensiunan guru yang kelelahan sehingga hanya bisa mengeluh saja. Kakak perempuannya, Kammo terlambat menikah karena tidak memiliki biaya untuk membayar mas kawin sebesar 800 rupee. Setiap hari Raju hanya berdoa dan berdoa kepada dewanya. Ia pun memakai cincin yang lebih banyak daripada jumlah jarinya. Hal yang lucu di film ini adalah, setiap kali memperlihatkan rumah Raju, warna layar berubah menjadi hitam putih.
Ketiganya bertemu di ICE, Imperial College of Ingeenering yang dipimpin oleh seorang bernama Viru Shastrabuddhi. Mahasiswanya sering menyebutnya Virus. Orang yang sangat kompetitif. Dia tidak membiarkan orang lain sejajar dengannya. Hebatnya, dia dapat melatih kedua tangannya untuk menulis bersamaan. Dia tidak suka membuang waktu. Bahkan, ia menggunakan kancing elektrik dan dasi yang sudah terpasang untuk menghemat waktunya. Ia memiliki kebiasaan unik, setiap pukul 14.00 ia akan tidur selama 7,5 menit sementara pelayannya, Govind mencukur jenggotnya.
Di ICE, ketiganya bertemu dengan Cahthur Ramalingam. Ia disebut sebagai Silencer. Mahasiswa ini adalah seorang yang suka menghafal. Suka membanggakan dirinya. Bahkan, untuk memperoleh nilai bagus ia harus menurunkan nilai orang lain dengan menyelipkan majalah porno di pintu kamar teman-temannya. Pada suatu hari, 3 Idiots (Rancho palsu, Farhan, dan Raju) terlibat konflik dengan Silencer. Mereka bertaruh metode siapa yang akan menghasilkan kesuksesan selama 10 tahun ke depan. Hm, kira-kira siapa ya yang akan sukses?
Masih banyak scene yang mengagumkan untuk dilewatkan. Makanya, nonton filmnya ya!
AAL IZZ WEEL! (All is well)

Selasa, 04 Mei 2010

Suster: Mulai dari Suster Ngesot, Suster N, Suster Keramas, sampe Nurse Aoi

Suatu hal yang mendasari tulisanku kali ini adalah sebuah keprihatinan terhadap industri perfilman Indonesia, yang masih saja mengedepankan sisi 'komersial' daripada manfaat.Beberapa yang ingin saya contohkan di sini, adalah film-film tentang suatu profesi yang [secara ramai-ramai] oleh industri perfilman dibuat imagenya sebagai suatu profesi yang menyeramkan, malah menurut saya film tersebut tidak menampilkan bahwa 'suster' atau perawat adalah suatu profesi.Mungkin memang saya mengada-ada, karena sama sekali belum [atau tidak akan?] pernah menontonnya. Semoga, tulisan saya ini akan merubah pandangan pembaca mengenai sosok seorang 'perawat'.

1.Suster Ngesot




Di film ini, diceritakan suster ngesot[kenapa disebut ngesot, karena hantu susternya memang ngesot!] yang

suka membunuh orang. Dan orang-orang yang dibunuhnya, adalah yang pernah BERSELINGKUH DI RUMAH SAKIT.


2.Suster N


Yang inipun lagi-lagi tentang suster ngesot. Tak jauh berbeda, suster yang satu ini pun hobi membunuh [mencekik] penghuni panti jompo.

3.Suster Keramas


Nah, film ini yang baru beredar. Saya belum mendapatkan sinopsisnya, mungkin pembaca sudah menonton? Tolong kirimi saya alurnya ya, atau sinopsis saya di atas kurang tepat, tolong dibenarkan ^_^. Yang pasti dari subtitle 'Jangan Panggil Namanya Atau Nyawa Bayarannya', sudah menceritakan semuanya. Seperti ini, ketika saya memanggil seorang perawat, 'Ners A', maka saya akan dibunuhnya?

Entah, apa yang mendasari para penulis untuk membuat cerita seseram itu, dan yang masih saya herankan, kenapa ketiganya menggunakan 'perawat' sebagai hantu yang suka membunuh? Dan kenapa harus perawat?

Sangat bertolak belakang sekali, sosok profesi yang bertugas merawat dengan seorang pembunuh, bukan?

Mungkinkah saat ini masih ditemui perawat yang judes sehingga membuat para pasien dag-dig-dug ketika perawat datang ke ruangannya? Entahlah, yang pasti film berikutnya yang akan saya soroti adalah contoh film yang menurut saya, menggunakan cerita sesuai dengan yang ada dalam kenyataan, dan lagi-lagi kita memang harus bercermin pada industri luar negri yang mau-tidak mau harus saya akui memang lebih baik.

Judulnya, Nurse Aoi (Ns' Aoi)



Ini adalah sebuah drama dari negeri sakura, Jepang. Drama ini benar-benar menceritakan tentang isu perawat sebagai 'pembantu dokter' yang masih melekat di mata masyarakat. Dalam drama ini bisa dilihat bagaimana perjuangan seorang perawat yang awalnya melakukan kesalahan dan akhirnya ia dipindahkan ke rumah sakit yang tidak mengutamakan 'care', tetapi 'profit'. Namun ia tetap memberi pelayanan kepada pasien dengan hati sehingga akhirnya ia dapat mengubah pikiran orang-orang yang ada di sekitarnya.

Ya, NURSING IS CREATED WITH SKILLAND CARE, BUILT ON TRUST

Semoga industri perfilman kita semakin cerdas!