Rabu, 05 Mei 2010

Maybe I Need to Prove?

Maybe I Need to Prove?


Ada seorang dosen yang mengejekku, "Seperti orang buta yang berbicara kepada orang tuli". Saat itu aku yang akan duduk dari presentasi terus saja berdiri memikirkan ternyata ada dosen yang kulihat seperti di televisi ataupun film. Dosen yang mengejek mahasiswa atau guru kepada muridnya. Entah kenapa, tapi kalaupun karena jawabanku yang salah, aku anggap itu keterlaluan. Memang aku masih belum punya pengetahuan yang cukup, memang beliau dosennya, tapi apakah
pantas untuk mengejek?

Hari ini, aku masih punya keberanian untuk menjawab. Tapi aku memang masih punya pikiran…negatif.


Kalau aku bukanlah aku, kalau aku tidak pernah mengikuti acara motivasi, [sempat saja] aku down. Nggak akan bangkit lagi. Aku nggak akan mau menjawab pertanyaan apapun saat presentasi. Bayangkan, apakah aku salah ketika aku mencoba menjawab dan tidak punya rasa takut salah ketika menjawab? Karena yang kutahu mahasiswa tidak boleh takut salah ketika menjawab. Itu yang kutahu, jadi apakah dosen pun harus merasa yang paling benar dan yang paling pintar?

Aku tidak akan menulis ini kalau aku tidak merasa sakit hati kepada dosen itu.

Setelah itu, aku banyak menulis untuk meluapkan kesalahanku. Memang aku merasa bersyukur dengan keadaan ini karena tulisan-tulisan tercipta dengan cepat, berterima kasih kepada Allah karena aku masih bisa menahan emosi, tapi aku tidak akan berterima kasih kepada dosen itu, T I D A K !

150410

Saya selalu mengagumi film tentang pendidikan. Saya mempelajari bahwa tidak semua pelajar yang pintar, yang omongannya lancar, akan menjadi JUARA I. Hari ini, saya menyaksikan hal itu. Dia berusaha menjawab, berpendapat, namun yang didapatkan hanyalah celaan. Apa yang salah? Kemudian saya berpikir ulang, "Adakah pelajaran bagaimana cara untuk menghargai seseorang? Apakah ada suatu peraturan yang mengatakan bahwa JIKA MURID MEMBERIKAN JAWABAN YANG KURANG MEMUASKAN, MAKA EJEKLAH IA SUPAYA IA MENGERTI?"

Tidak semua orang bisa berdiri ketika ia jatuh…

Karena yang kulihat di film-film pendidikan, tokoh utama selalu memiliki sistem belajar yang berbeda, dan karenanya ia dianggap aneh sebelum ia sukses, aku sesaat punya pertanyaan,

"APAKAH SESORANG YANG MEMILIKI SISTEM BERBEDA HARUS MENGASINGKAN DIRI DULU SEBELUM IA SUKSES? APAKAH SEORANG MURID YANG BANYAK BERBICARA ITU SALAH?"

KALAU TIAP ORANG DI DUNIA MEMILIKI SILABUS YANG SAMA TENTANG APA YANG HARUS DIPELAJARI, JIKA DI SILABUSKU TERTULIS BAB TENTANG ABC, MAKA KITA SEMUA AKAN MENGERTI TENTANG ABC.
JADI TIDAKKAH KAMU INGIN MEMPELAJARI YANG LEBIH DARI ABC?

Mencari Sebuah Rumus Tuhan

Tuhan, saya punya begitu banyak pertanyaan. Itu semua ada di dalam otak saya. Suatu cara untuk menggunakan sesuatu yang Kau beri.

Apakah salah jika saya terus mengisinya dengan banyak pertanyaan?

Tuhan, Kau sudah banyak menciptkan manusia-manusia bernama yang berhasil membaca sebagian rumusmu:
• Galileo Galilei berhasil menemukan bahwa mataharilah pusat tata surya.
• Leonardo Da Vinci menemukan kode-kode dan simbol yang luar biasa menarik dan menuangkannya dalam lukisannya sehingga tak tampak. Ia pun berhasil menciptakan anatomi tubuh manusia.
• Albert Einstein berhasil menciptakan rumus e=mc2, suatu rumus yang menjadi hak patennya.
• James Watt berhasil menciptakan lampu ketika umatMu membutuhkan penerangan yang cukup ketika sinar bulan terlalu redup.

Tuhan, orang-orang perlu mengetahui hal yang kecil ketika mereka ingin mengetahui hal-hal yang besar. Tapi Tuhan, kenapa ketika aku mencobanya, orang-orang memandangku rendah? Salahkah itu? Aku ingin seperti mereka walaupun aku tak sehebat mereka.

Ketika orang-orang meremehkanku, Tuhan, aku begitu takut untuk tertawa. Aku begitu takut untuk mencoba. Maka aku memutuskan, orang tidak boleh tahu caraku untuk mencari rumusMu. Supaya mereka tidak menertawakanku ketika aku benar-benar menemukannya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan komen yaa...jangan lupa kasih alamat blog kamu, nanti aku balik kunjungi ^_^
thanks!