Selasa, 04 Mei 2010

Noya, Andy F. 2009. Andy's Corner: Buku Kedua Andy F. Noya. Yogyakarta: Bentang.

Kaca Spion

Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion itu patah.

Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah, saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana bersembunyi dalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya, dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000,00. tetapi uang senilai itu, pada 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000,00 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitang tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tetapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan kami -ibu, dua kakak, dan saya- harus bisa bertahan hidup sebulan.

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakkah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.

Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Behkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putusdan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.

Lentera Jiwa

Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak-memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah seorang pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang Ayah sebagai diplomat.

Pelajaran

Saya masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Teknik (setingkat SMP). Sekolah saya letaknya di Dok VII, sekitar satu kilometer dari lokasi warung. Tetapi biasanya sepulang sekolah saya dan teman-teman mampir dulu ke warung itu. Kami biasa kumpul-kumpul di sana.

Kalau bangku di depan warung sudha penuh, ibu pemilik warung mempersilakan para pembeli duduk di dalam, di ruang makan keluarga mereka. Nah, situasi inilahyang sering saya dan teman-teman manfaatkan. Kebaikan ibu pemilik warung tersebut kami salah gunakan.

Kalau makan di warung itu, saya dan teman-teman sengaja memilih duduk di ruang makan. Jika pemilik warung lengah, salah seorang dari kami segera membuka lemari makan dan mencuri lauk-pauk yang ada di dalamnya. Kadang tempe, empal, ikan goreng, kerupuk, atau ayam goreng. Lauk-pauk ini tentu tidak dijual karena untuk konsumsi keluarga pemilik warung. Isi lemari inilah yang menjadi sasaran kami. Enak dan gratis. Pernah sekali kami terpergok. Tetapi ibu itu diam saja. Tidak marah. Tidak pula meminta bayaran.

Kini, di ruangan yang tidak terlalu luas itu, di kamar pemilik rumah yang juga pemilik warung yang makanannya sering kami curi, saya mendapat perlindungan. Ibu itulah yang menolong saya. Dia menyembunyikan saya dari kejaran anak-anak SMA. Jika saja dia dendam atas perbuatan saya mencuri makanan di lemari makannya dulu, tentu dia tidak akan sudi menolong saya. Apalagi melindungi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan komen yaa...jangan lupa kasih alamat blog kamu, nanti aku balik kunjungi ^_^
thanks!